Selasa, 30 Juni 2009

Kebangkitan Pemuda

Lahirnya sebuah negara seperti Indonesia tidak terlepas dari peran pemudanya. Hari kebangkitan nasional sejatinya tidak sekedar berupa ritual tahunan yang tidak memiliki makna, tapi merupakan momen untuk melakukan perubahan bagi bangsa ini. Setelah sembilan tahun reformasi, bangsa ini tak kunjung keluar dari krisis multidimensional, baik itu karena bencana alam maupun akibat dari kebijakan-kebijakan yang tidak memihak pada rakyat. Elit-elit penentu kebijakan seolah duduk di sebuah singgasana yang tidak meyentuh persoalan rakyat.

Oleh karena itu, pada hari kebangkitan nasional ini selayaknya pemuda diberi kesempatan untuk melanjutkan state building yang belum selesai ini. Sejarah bangsa ini menunjukkan kebangkitan sebuah bangsa bukanlah terletak pada punggung para orang tua yang sudah renta, yang tidak mampu lagi melihat ke masa depan. Karena masa depan adalah milik kaum muda dan merekalah yang lebih mampu memikul tanggung jawab bangsa ini di masa mendatang. Bukti konkrit kegagalan para orang tua dalam memimpin bangsa ini adalah ketidak mampuan mereka dalam menyelesaikan berbagai krisis yang melanda bangsa ini, terutama dalam hal mensejahterakan rakyatnya. Lalu apalagi yang dapat diharapkan dari para orang tua yang sudah renta itu?

Kaum muda bukanlah sekadar kriteria usia, tapi kaum muda juga merefleksikan kepribadiannya sebagai sebuah sosok yang memiliki cara pandang dan sikap ang baru; yaitu, memutus hubungan dengan tradisi kegelapan masa lalu, dengan keberanian memperjuangkan visi perubahan yang menjanjikan pencerahan masa depan. Mereka yang berani mengemban visi perubahan ini lebih mungkin tumbuh dari mereka yang tidak terlalu digayuti beban masa lalu. Meminjam pandangan Hatta, Generasi baru kaum terdidik, dengan kemampuannya untuk membebaskan diri dari hipnosa kolonial, lebih mungkin mengambil inisiatif untuk membangkitkan kekuatan rakyat dan menyediakan basis teoretis bagi aksi-aksi kolektif.

Dengan demikian, peran yang disandang kaum muda Indonesia sebagai agen perubahan dan agen kontrol sosial hingga saat ini sangat perlu untuk diposisikan secara lebih luas. karena, sebagai sebuah negara dengan wilayah yang besar dan tingkat pendidikan masyarakatnya yang relatif rendah, setiap pemerintahan yang berkuasa di Indonesia akan cenderung melakukan penyimpangan dalam setiap kebijakannya. Hal ini dimungkinkan karena masyarakat sebagai stakeholder Republik Indonesia secara politis belum cukup aktif dalam mengupayakan pengkontrolan terhadap kebijakan dan prilaku politik penguasanya, sehingga peran pemuda dalam hal ini menjadi sangat penting dalam menstimulus partisipasi politik rakyat dalam upaya mengontrol setiap kebijakan yang dibuat penguasa.

Benedict Anderson, seorang Indonesianist mengungkapkan bahwa sejarah Indonesia adalah sejarah pemudanya. Artinya, sejarah panjang indonesia tidak pernah lepas dari peran pemuda, yang menjadi aktor dari setiap langkah perjalanan bangsa Indonesia. Hal ini dapat dilihat dari mulai munculnya pemikiran politik modern yang yang dimotori kaum muda antara tahun 1900-an dan 1910-an, berupa sekelompok kecil mahasiswa dan cendikiawan muda yang memandang dunia modern sebagai tantangan terhadap masyarakat dan menganggap diri mereka sebagai pemimpin potensial di masa yang akan datang. Dalam tahun-tahun 1920-an jumlah mereka (pemuda) meningkat agak pesat, banyak di antara mereka, khususnya yang menuntut ilmu di luar negeri, dipengaruhi oleh pelbagai ideologi seperti sosialisme, komunisme, reformisme Islam, dan nasionalisme India, China, dan Jepang.

Maka, tidak mengherankan, jika selanjutnya orang-orang muda ada di balik tonggak-tonggak penting pembangunan bangsa. Guru-guru belia mulai mengampanyekan gerakan

kemajuan lewat pers vernakular dan perkumpulan Mufakat Guru pada akhir abad ke-19; anak-anak STOVIA memelopori gerakan kultural Budi Utomo pada 1908; pemuda pemuda jebolan berbagai sekolah modern termasuk Samanhudi yang lulusan sekolah ongko loro (tweede Klasse School) mengembangkan Sarekat Islam sejak 1912 sebagai pergerakan politik proto-nasionalisme; para mahasiswa mengembangkan perhimpunan Indonesia, kelompok-kelompok studi pergerakan serta partai-partai politik nasionalis sejak 1920-an; pemuda-pelajar menggalang Sumpah Pemuda sebagai kode pembentukan blok nasional pada 1928; bahkan revolusi kemerdekaan 1940-an dilukiskan Ben Anderson sebagai revolusi pemuda.

Bentuk revolusi pemuda itu memunculkan tokoh-tokoh seperti Tan Malaka yang telah menjadi pemimpin Partai Komunis pada usia 24 tahun. Soekarno, yang mendirikan dan memimpin Partai Nasional Indonesia pada usia 26 tahun. Sjahrir, yang memimpin Pendidikan Nasional Indonesia pada usia 22 tahun. Mohammad Roem, yang telah menjadi ketua Lajnah Tandfiziyah Barisan Penyadar PSII pada usia 29 tahun.

Melihat sejarah panjang keterlibatan kaum muda dalam membangun negeri ini, maka upaya untuk revitalisasi peran dan fungsi kaum muda menjadi mendesak untuk dilakukan, mengingat bangsa ini, terutama sejak reformasai bergulir, kehilangan gaumnya, baik dari cara berfikir maupun berkarya. Disamping itu, kiprah kaum muda dalam era reformasi ini juga harus ditekankan pada pengawalan proses perubahan sistem politik Indonesia agar tidak jatuh kembali ke dalam rejim otoriter. Pemuda Indonesia saat ini dihadapkan pada tantangan membangun kedewasaan berpolitik dan berbudaya masyarakat agar mereka dapat bertindak sebagai pengawas dan pengontrol kebijakan pemerintah, serta membimbing masyarakat dalam membangun kreativitas melalui karya,

1 komentar: